Di kanada… aku tidak bermimpi!!!
Di kanada… aku tidak bermimpi!!!
Pada waktu itu, aku masih duduk dibangku kuliah semester enam Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa Inggris di Universitas Bengkulu. Suatu ketika, terdengar berita di kampus, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) ikut serta dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Terdorong keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang program tersebut, maka sekembalinya dia dari program ke Bengkulu, aku temui dia dan bertanya langsung tentang program pertukaran pemuda “exchange program” Indonesia-Kanada tersebut.
Program ini dilaksanakan setiap tahun oleh Diknas dan sekarang dibawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang bekerjasama dengan Canada World Youth, melalui seleksi yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan olahraga (Dispora) ditiap-tiap propinsi se-Indonesia. Untuk program ke Kanada, dipilih masing-masing Sembilan orang peserta dan didampingi satu Project Supervisor dari Indonesia dan Kanada. Program ini berlangsung selama tujuh bulan, dimana tempat kegiatannya memiliki dua fase: empat bulan di Kanada dan tiga bulan di Indonesia. Selama program, para peserta memiliki partner “counterpart” dan tinggal dengan keluarga angkat “Host family” yang berasal dari penduduk setempat. Peserta juga mendapatkan tempat kerja atau magang “workplacement” diwilayah tersebut. Program ini menitikberatkan pada “community development” beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja/magang.
April 2002, seleksi pertukaran pemuda di Dispora Bengkulu diselenggarakan. Aku tak mau ketinggalan dalam seleksi tersebut. Saat itu, ada pilihan Negara yang dituju yaitu Kanada, Australia, dan Asean-Jepang. Di benakku hanya ada satu pilihan, Kanada. Ya, aku ingin ke Kanada agar bisa merasakan pengalaman tinggal dan hidup di Negara penutur asli “native speaker”. Seleksipun berlangsung. Lebih kurang ada ratusan calon peserta yang ikut serta pada seleksi tersebut. Tesnya pun terdiri dari berbagai macam. Dimulai dari tes tertulis, psikotes, wawancara, sampai akhirnya para calon peserta mesti menunjukkan keahlian mereka masing-masing, khususnya di bidang seni “ Show of force”. Tes ini sangat diperlukan karena nantinya peserta yang terpilih secara tidak langsung akan membawa misi budaya Negara Indonesia ke Negara tujuan. Tahapan demi tahapan tes yang dilaksanakan selama dua hari sudah terlaksana. Akhirnya dipilihlah empat orang calon peserta yang lolos tingkat propinsi (dua mahasiswa dan dua mahasiswi). Dua orang peserta untuk Negara Kanada dan dua orang peserta lagi untuk Negara Australia, masing-masing negara terdiri dari satu mahasiswa dan satu mahasiswi. Alhamdulillah, Aku termasuk diantara empat calon peserta yang lolos tingkat propinsi. Kemudian, kami diminta mengirimkan berkas data dan membuat paper tentang Negara tujuan yang nantinya berkas data dan paper tersebut akan diseleksi di tingkat nasional.
Mei 2002, sekitar satu bulan setelah pengiriman berkas data dan paper berlalu, tiba-tiba datang seorang petugas pengantar surat (pak pos) ke tempat kosku di kelurahan rawamakmur Bengkulu. Surat tersebut beralamatkan Diknas Jakarta yang ditujukan untukku. Perasaan gugup dan cemas bercampur menjadi satu, manakala kubuka surat tersebut. Tertera perihal dibagian atas surat tulisan “Hasil Pengumuman Seleksi Peserta Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada tahun 2002“. Perlahan, satu persatu kalimat aku baca. Tibalah pada tulisan hasil pengumuman (Berhasil/Tidak berhasil). Ternyata, tulisan yang dicoret pada surat tersebut adalah kata “Berhasil”. Berarti aku tidak lolos dalam seleksi. Aku ulangi membaca hasil pengumuman itu beberapa kali, tulisan yang tertera tidak berubah. Tetap "tidak berhasil". Perasaan sedih dan kecewa kurasakan saat itu. Impian ke Kanada seketika pupus di benakku. Karena batas usia persyaratan untuk mengikuti tes program ke Kanada maksimal 22 tahun. Sedangkan tahun depan usiaku sudah 23 tahun. Tak terasa, aku menitikkan air mata. Tapi semua aku kembalikan kepada Allah. Karena semua pasti sudah menjadi skenarioNya. Pasti Allah memberi yang terbaik kepada setiap umatNya.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Akupun sudah mulai bisa melupakan impianku ke Kanada. Namun, disetiap doa selesai sholat, tak lupa kuselipkan permintaanku agar bisa kesana. Bahkan hampir tiap malam, aku giat melaksanakan sholat tahajjud dan berdoa agar impianku ke Kanada bisa terwujud. Agustus 2012, kuterima telepon dari Dispora Bengkulu dan memintaku kesana. Sesampainya disana, salah seorang karyawan memberikan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dari Diknas Pusat dan dialamatkan atas namaku. Setelah kubaca isinya, badanku langsung lemas. Tanganku gemetar. Terasa jiwa ini melayang. Antara percaya dan tidak percaya. Isi surat itu, menyatakan aku lolos seleksi ke Kanada untuk gelombang kedua dan meminta aku segera ke Jakarta, untuk menjalani tes kesehatan.
Program Indonesia-Kanada gelombang kedua merupakan program peralihan, yang semestinya diselenggarakan antara Kanada-Jamaika. Namun, saat itu Jamaika sedang dilanda konflik. Sehingga, programnya dialihkan ke Negara Indonesia. Terpilihlah Sembilan orang peserta dan satu orang Project Supervisor dari berbagai provinsi di tanah air. Untuk rombongan pertama diadakan di provinsi British Colombia, menempuh waktu total 21 jam perjalanan dengan pesawat terbang. Sedangkan rombongan kedua, dimana aku ikut dirombongan tersebut, diselenggarakan di propinsi Nova Scotia, menempuh waktu total 27 jam perjalanan dengan pesawat terbang.
Subhanallah, akhirnya Allah mengabulkan doa dan harapanku untuk bisa ke Kanada. Perasaan sedih, bangga, dan haru aku rasakan saat itu. Segera kubersimpuh dan melaksanakan sujud syukur seraya berdoa “Robbi Auzidni An Asykuro Nikmatakallati An Amta Alayya wa ala walidayya wa an a'malan sholihan tardo wa adhilni birohmatika fi ibadikash sholihin”. Wajahku basah dengan air mata. Airmata bahagia. Ternyata benar skenario Allah. Allah menangguhkan keinginan hambanya. Maka dari itu, kita mesti menerima apapun yang diberikan Allah kepada kita. Selain itu, aku juga bersyukur, karena aku adalah orang pertama dari jurusan FKIP Bahasa Inggris yang bisa lolos program pertukaran pemuda ke Kanada. Tekadku, sekembalinya aku dari program, akan kupromosikan program ini kepada para pemuda di propinsi Bengkulu, khususnya, kepada adik-adik mahasiswa Bahasa Inggris EDSA (English Department Student Association). Akhirnya, dengan banyak membaca peluang dan kesempatan, selanjutnya berusaha dengan sungguh-sungguh, dan selalu melibatkan Allah dalam setiap persoalan, merupakan kunci keberhasilan kita di manapun kita berada. Semoga kita tetap istiqomah dan mendapatkan lindungan Allah swt di dunia dan di akherat. Aamin ya robbal alamin.
Kiagus Muhammad Ismail (Alumnus FKIP Program Studi Bahasa Inggris angkatan 1999 Universitas Bengkulu)
Pekerjaan sekarang: Staff Pengajar Bahasa Inggris di sekolah swasta di Jakarta.
Negara yang pernah dikunjungi: Kanada, Hongkong, Turki, Dubai, Singapura, Malaysia, dan Australia.




