Senin, 21 September 2020

Di kanada… aku tidak bermimpi!!!











 

Di kanada… aku tidak bermimpi!!!

Di kanada… aku tidak bermimpi!!!

 

Pada waktu itu, aku masih duduk dibangku kuliah semester enam Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa Inggris di Universitas Bengkulu. Suatu ketika, terdengar berita di kampus, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) ikut serta dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Terdorong keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang program tersebut, maka sekembalinya dia dari program ke Bengkulu, aku temui dia dan bertanya langsung tentang program pertukaran pemuda “exchange program” Indonesia-Kanada tersebut.

            Program ini dilaksanakan setiap tahun oleh Diknas dan sekarang dibawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang bekerjasama dengan Canada World Youth, melalui seleksi yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan olahraga (Dispora) ditiap-tiap propinsi se-Indonesia. Untuk program ke Kanada, dipilih masing-masing Sembilan orang peserta dan didampingi satu Project Supervisor dari Indonesia dan Kanada. Program ini berlangsung selama tujuh bulan, dimana tempat kegiatannya memiliki dua fase: empat bulan di Kanada dan tiga bulan di Indonesia. Selama program, para peserta memiliki partner “counterpart” dan tinggal dengan keluarga angkat “Host family” yang berasal dari penduduk setempat. Peserta juga  mendapatkan tempat kerja atau magang “workplacement” diwilayah tersebut. Program ini menitikberatkan pada “community development” beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja/magang.

            April 2002, seleksi pertukaran pemuda di Dispora Bengkulu diselenggarakan. Aku tak mau ketinggalan dalam seleksi tersebut. Saat itu, ada pilihan Negara yang dituju yaitu Kanada, Australia, dan Asean-Jepang. Di benakku hanya ada satu pilihan, Kanada. Ya, aku ingin ke Kanada agar bisa merasakan pengalaman tinggal dan hidup di Negara penutur asli “native speaker”. Seleksipun berlangsung. Lebih kurang ada ratusan calon peserta yang ikut serta pada seleksi tersebut. Tesnya pun terdiri dari berbagai macam. Dimulai dari tes tertulis, psikotes, wawancara, sampai akhirnya para calon peserta mesti menunjukkan keahlian mereka masing-masing, khususnya di bidang seni “ Show of force”. Tes ini sangat diperlukan karena nantinya peserta yang terpilih secara tidak langsung akan membawa misi budaya Negara Indonesia ke Negara tujuan. Tahapan demi tahapan tes yang dilaksanakan selama dua hari sudah terlaksana. Akhirnya dipilihlah empat orang calon peserta yang lolos tingkat propinsi (dua mahasiswa dan dua mahasiswi). Dua orang peserta untuk Negara Kanada dan dua orang peserta lagi untuk Negara Australia, masing-masing negara terdiri dari satu mahasiswa dan satu mahasiswi. Alhamdulillah, Aku termasuk diantara empat calon peserta yang lolos tingkat propinsi. Kemudian, kami diminta mengirimkan berkas data dan membuat paper tentang Negara tujuan yang nantinya berkas data dan paper tersebut akan diseleksi di tingkat nasional.

            Mei 2002, sekitar satu bulan setelah pengiriman berkas data dan paper berlalu, tiba-tiba datang seorang petugas pengantar surat (pak pos) ke tempat kosku di kelurahan rawamakmur Bengkulu. Surat tersebut beralamatkan Diknas Jakarta yang ditujukan untukku. Perasaan gugup dan cemas bercampur menjadi satu, manakala kubuka surat tersebut. Tertera perihal dibagian atas surat tulisan “Hasil Pengumuman Seleksi Peserta Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada tahun 2002“. Perlahan, satu persatu kalimat aku baca. Tibalah pada tulisan hasil pengumuman (Berhasil/Tidak berhasil). Ternyata, tulisan yang dicoret pada surat tersebut adalah kata “Berhasil”. Berarti aku tidak lolos dalam seleksi. Aku ulangi membaca hasil pengumuman itu beberapa kali, tulisan yang tertera tidak berubah. Tetap "tidak berhasil". Perasaan sedih dan kecewa kurasakan saat itu. Impian ke Kanada seketika pupus di benakku. Karena batas usia persyaratan untuk mengikuti tes program ke Kanada maksimal 22 tahun. Sedangkan tahun depan usiaku sudah 23 tahun. Tak terasa, aku menitikkan air mata. Tapi semua aku kembalikan kepada Allah. Karena semua pasti sudah menjadi skenarioNya. Pasti Allah memberi yang terbaik kepada setiap umatNya.

            Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Akupun sudah mulai bisa melupakan impianku ke Kanada. Namun, disetiap doa selesai sholat, tak lupa kuselipkan permintaanku agar bisa kesana. Bahkan hampir tiap malam, aku giat melaksanakan sholat tahajjud dan berdoa agar impianku ke Kanada bisa terwujud. Agustus 2012, kuterima telepon dari Dispora Bengkulu dan memintaku kesana. Sesampainya disana, salah seorang karyawan memberikan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dari Diknas Pusat dan dialamatkan atas namaku. Setelah kubaca isinya, badanku langsung lemas. Tanganku gemetar. Terasa jiwa ini melayang. Antara percaya dan tidak percaya. Isi surat itu, menyatakan aku lolos seleksi ke Kanada untuk gelombang kedua dan meminta aku segera ke Jakarta, untuk menjalani tes kesehatan.

Program Indonesia-Kanada gelombang kedua merupakan program peralihan, yang semestinya diselenggarakan antara Kanada-Jamaika. Namun, saat itu Jamaika sedang dilanda konflik. Sehingga, programnya dialihkan ke Negara Indonesia. Terpilihlah Sembilan orang peserta dan  satu orang Project Supervisor dari berbagai provinsi di tanah air. Untuk rombongan pertama diadakan di provinsi British Colombia, menempuh waktu total 21 jam perjalanan dengan pesawat terbang. Sedangkan rombongan kedua, dimana aku ikut dirombongan tersebut, diselenggarakan di propinsi Nova Scotia, menempuh waktu total 27 jam perjalanan dengan pesawat terbang.

Subhanallah, akhirnya Allah mengabulkan doa dan harapanku untuk bisa ke Kanada. Perasaan sedih, bangga, dan haru aku rasakan saat itu. Segera kubersimpuh dan melaksanakan sujud syukur seraya berdoa “Robbi Auzidni An Asykuro Nikmatakallati An Amta Alayya wa ala walidayya wa an a'malan sholihan tardo wa adhilni birohmatika fi ibadikash sholihin”. Wajahku basah dengan air mata. Airmata bahagia. Ternyata benar skenario Allah. Allah menangguhkan keinginan hambanya. Maka dari itu, kita mesti menerima apapun yang diberikan Allah kepada kita. Selain itu, aku juga bersyukur, karena aku adalah orang pertama dari jurusan FKIP Bahasa Inggris yang bisa lolos program pertukaran pemuda ke Kanada. Tekadku, sekembalinya aku dari program, akan kupromosikan program ini kepada para pemuda di propinsi Bengkulu, khususnya, kepada adik-adik mahasiswa Bahasa Inggris EDSA (English Department Student Association). Akhirnya, dengan banyak membaca peluang dan kesempatan, selanjutnya berusaha dengan sungguh-sungguh, dan selalu melibatkan Allah dalam setiap persoalan, merupakan kunci keberhasilan kita di manapun kita berada. Semoga kita tetap istiqomah dan mendapatkan lindungan Allah swt di dunia dan di akherat. Aamin ya robbal alamin.

 

 

 

Kiagus Muhammad Ismail (Alumnus FKIP Program Studi Bahasa Inggris angkatan 1999 Universitas Bengkulu)

Pekerjaan sekarang: Staff Pengajar Bahasa Inggris di sekolah swasta di Jakarta.

 

Negara yang pernah dikunjungi: Kanada, Hongkong, Turki, Dubai, Singapura, Malaysia, dan Australia.


Jumat, 20 Mei 2011

MAKE OUR LONG TERM AS IF WE'LL LIVE FOREVER

CONDUCT OURSELVES DAILY AS IF WE'LL DIE TOMORROW
MAKE OUR LONG TERM AS IF WE'LL LIVE FOREVER

CONDUCT OURSELVES DAILY AS IF WE'LL DIE TOMORROW

Minggu, 16 Januari 2011

KISI-KISI UJIAN NASIONAL BAHASA INGGRIS SMP/MTS tahun 2011

Below are the Prediction of National Exam Material 2010/2011

* Caution / notice / warning
* greeting card
* recount
* letter
* label
* descriptive
* short message
* advertisement
* narrative
* announcement
* report
* procedure
* invitation
* melengkapi teks berbentuk descriptive/recount/procedure sederhana
* menyusun kata (jumbled word)
* menyusun kalimat (jumbled sentences)

Good luck.. May Allah always bless you..:) aamien

Minggu, 10 Oktober 2010

curahan hati mamanda..

mana yang benar... Kerap kali umat islam terjebak pada dua pilihan berbeda, berdasarkan keyakinan dan pemikiran sendiri sendiri. bukan saja pada penentuan Hari Iedul Fitri ataw hari pertama puasa, atau hal hal yang tidak prinsip lainnya. Bahkan sampai pada penentuan arah kiblat yang dilakukan solat berjamaah.

Seringkali Iedul fitri dirayakan secara berlebihan penuh kemewahan oleh mereka yang lebih beruntung, sementara sebagian besar mereka yang kurang beruntung bertarung untuk mendapatkan hanya sedikit yang Fitri itu, sampai sampai ada yang menghembuskan nafas terahir di pagar istana Presiden yang hanya mengharapkan saweran THR seratus ribu saja.

Banyak diantara mereka merayakan Iedul fitri dengan mempertontonkan budaya demonstratif. Momentum Idul fitri menjadi etalase peningkatan kelas sosial ketika pulang kampung atau mudik melalui aksesoris kendaraan, dan gaya hidup. Sementara ada sebagian lagi menggunakan fasilitas negara untuk menghadapi Idul fitri, bahkan ada pula pemerintah daerah yang membuat kartu idul fitri untuk kepentingan pencitraan diri pribadi memakai anggaran pemerintah.

Idul Fitri dijadikan moment anti klimaks untuk kembali meliarkan nafsu setelah sebulan penuh mrasa terkekang. Padahal klimaks Idul fitri adalah Ketaqwa'an' Kembali ke fitrah. Idul fitri adalah hari kemenangan untuk orang orang yang berpuasa.

Tidak diketahui secara pasti,dan sejak kapan umat islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa yang bermuara pada perayaan idul fitri
yang sangat meriah, konon dinegeri dimana islam dilahirkan tidak dirayakan semacam itu.
Idul fitri yang bermakna kembali ke Fitrah kesucian, namun yang terjadi adalah terjebak pada suatu perayaan yang gegap gempita dan keriuhan seremonial ritual. Padahal maraknya acara keagamaan yang dilakoni para orang orang yang berpuasa tidak berbanding lurus dengan karakter para pengambil keputusan. Ternyata Negeri ini tetap saja devisid perilaku prilaku kesalehan sosial. Budaya mencuri,korupsi, khianat, dan yang sejenisnya masih saja berjalan melenggang seenaknya.

Rasullah SAW bersabda untuk kita semua.. "Berapa banyak orang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa, kecuali rasa dahaga dan lapar belaka"..
Adegan dan paparan ini adalah sebagian kecil yang benar-benar terjadi. Tapi bukanlah berarti semua kita telah membuat kesalahan. Banyak yang berbuat kebenaran, sedikit yang membuat kesalahan. WallahuAlam...

Kita mengharapkan Idul fitri 1431H akan dapat menyadarkan kita semua agar secara perlahan dapat menyelami hakekat puasa dan memaknai idul fitri secara benar, sehingga hasil yang diperoleh adalah kemenangan sejati, bukan capaian yang dangkal dan hampa makna. Perosesnya dimulai dari kita sendiri.

Kewajiban puasa selama satu bulan telah rampung, hari kemenangan untuk itu telah pula berlalu, yang tersisa adalah harapan dan Do'a. seperti yang termaktub dalam Al Baqarah 183. "Mudah mudahan kamu sekalian menjadi orang ber Taqwa"

Sesungguhnya Allah maha mendengar, dekat, dan mengabulkan Do'a..
Yaa Allah, orang yang sedang membaca catatanku ini adalah saudaraku yang terbaik, maka aku mohon agar engkau terima pahala puasanya, ampunilah segala dosanya, berilah kesehatan jasmani dan rohani, limpahkanlah rezeki yang barokah, panjangkanlah umurnya, semoga dapat bertemu dengan Ramadhan berikutnya, amin ya Raabalalamin..

Wassalamualaikum ww,
H.Kemas Amin Usman.

Jumat, 25 Juni 2010

RSBI

What’s RSBI?

Terkadang kita ingin tahu apa RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)? Kenapa RSBI? Untuk apa RSBI? Dan apa manfaatnya buat sekolah yang sudah RSBI? Untuk itu, pada tanggal 19 – 23 Oktober 2009 yang lalu, Pak Hidayat (Principal) dan pak Ismail (English teacher) mengikuti workshop RSBI di Yogyakarta tepatnya di hotel Saphir, di mana workshop tersebut diikuti oleh peserta-peserta dari 65 sekolah se – Indonesia, yang terdiri dari 50 sekolah negeri (RSBI) dan 15 sekolah swasta mandiri (RSBI) dan 3 sekolah standar nasional (SSN).

Selama mengikuti workshop, para peserta banyak diberikan materi tentang RSBI dan bagaimana cara menjalankan program RSBI tersebut. RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) merupakan sekolah yang telah memenuhi 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan memiliki ciri-ciri keinternasionalan yang ditinjau dari komponen SNP. Dalam RSBI Dan SBI, diharapkan murid lulusan mempunyai daya saing internasional. Sehingga, proses belajar mengajar disampaikan dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia atau yang dikenal dengan istilah “bilingual”.

Kurikulum yang dipakai di sekolah RSBI adalah tetap menggunakan kurikulum nasional dan ditambah kurikulum yang mengadopsi dan mengadaptasi dari Negara lain. Hal ini dilakukan agar para murid selain mendapatkan pendidikan yang mengacu pada konsep nasional, mereka juga mendapatkan model belajar internasional. Adapun ujian nasional yang ditempuh tetap menggunakan standar ujian nasional. Akan tetapi, sekolah RSBI diberi kebebasan apabila sekolah tersebut akan menambah ujian yang berstandar Internasional. Rapot yang diterima murid pun tetap berbahasa Indonesia, namun sekolah juga diberi kebebasan apabila menggunakan rapot berbahasa Inggris.

Menurut salah seorang pembicara workshop, Bapak Indra Djati Sidi yang mengisi materi dengan tema “Enterpreneur dan Leadership dalam SSN menuju RSBI”, ciri RSBI sebagai berikut:

1. Nasionalisme,

2. Memiliki standar moral yang tinggi,

3. Mandiri,

4. Kepemimpinan dan Enterpreneurship,

5. Networking,

6. Penguasaan sains, teknologi, seni dan olahraga,

7. Penguasaan bahasa asing.

Maraknya pendirian dan pengembangan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang didasari Undang- Undang nomor 20 tahun 2003 Pasal 50 ayat 3, tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 20/2003) yang menyebutkan bahwa “pemerintah dan/ atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk di-kembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional” Dalam ketentuan ini, pemerintah didorong untuk mengembangkan satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Standar internasional yang dituntut dalam RSBI maupun SBI adalah Standar Kompetensi Lulusan, Kurikulum, Proses Belajar Mengajar, SDM, Fasilitas, Manajemen, Pembiayaan, dan Penilaian standar internasional.

Oleh karena itu, Dengan landasan hukum UU No. 20 tahun 2003, eksistensi sekolah, daya dukung internal dan eksternal serta tuntutan masyarakat. Maka SMP Islam Al Azhar 12 beserta yayasan kerjasamanya YAPI (Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam) bekerja keras dan berupaya menjadikan sekolah Al Azhar sebagai salah satu sekolah islam yang bertaraf internasional. Alhamdulillah, pada tanggal 15 September 2009 SMP Islam Al Azhar 12 Rawamangun ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) melalui surat keputusan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Dirjen Manajemen DikDasMen Nomor 2977/C3/MN/2009.

Akhirnya, untuk mensukseskan RSBI di Al Azhar 12, kerja keras semua pihak sangat diperlukan. Selamat buat SMP Islam Al Azhar 12. Semoga sukses mencetak generasi yang bertaraf Internasional dan juga berakhlaq mulia serta mempunyai kepribadian muslim sejati.Amien ..(Ismail)

Senin, 03 Mei 2010

Pak Sartono...Pahlawan tanpa tanda jasa

Siapa yang tak kenal lagu "Hymne Guru"!
Dari sabang sampai merauke, lagu itu berkumandang. Lagu itu sangat indah didengar dan dirasakan. Ketika mendengarkan lagu itu, sontak jiwa para guru tergugah dan merasa terpanggil untuk mengabdi.

Iya, pengarang lagu itu Pak Sartono, seorang guru yang sekarang sudah cukup berumur yang tinggal di kota kecil Madiun. Sekarang beliau sudah tidak mengajar lagi.

Kehidupan sehari harinya serba pas pasan. Dengan dibantu dan ditopang oleh istrinya yang masih mengajar, mereka menjalankan kehidupannya. Kalau kita membandingkan dengan pengarang2 lagu dewasa ini, alangkah tidak adilnya. Kita lihat, almarhum mbah Surip yang mengarang lagu "tak Gendong" saja, masih mendapatkan royalti. Apalagi kalau kita lihat pengarang lagu seperti Ahmad Dhani, Anang, dll, mereka benar benar hidup dengan serba berkecukupan.

Yakinlah pak Sartono, biarlah royalti dunia tidak Bapak dapatkan. Tapi setiap lagu itu dikumandangkan, Allah akan membayarnya dengan pahala di akherat. Bisa jadi di kehidupan dunia kita tidak begitu beruntung, tapi di kehidupan akherat yang kekal dan abadi, Allah akan membayar mahal lagu karangan Bapak tersebut. Semoga Bapak tetap ikhlas.

Oleh Karena Itu, di hari Pendidikan Nasional ini, jadikan momentum buat kita sebagai guru untuk tetap berjuang demi bangsa. Maju terus para Guru Indonesia!!! jangan lihat gaji dan pendapatan. Dengan tulus dan Ikhlas mendidik anak bangsa dan calon pemimpin di masa mendatang, Insya Allah, Allah akan memberi keberkahan dalam hidup.. Aamien

Hymne Guru
Terpujilah.. wahai engkau Ibu Bapak guru
namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti, terimakasihku tuk pengabdianmu

engkau sbagai pelita dalam kegelapan
engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa